Peluang Dari Kenaikan Fed Fund Rate dan Pergerakan IHSG

Author: | Posted in Keuangan No comments

Peluang Dari Kenaikan Fed  – Mau tak mau, arah pasar keuangan terpengaruh keputusan suku bunga The Federal Reserve. Bank sentral AS kemungkinan besar menaikkan suku bunga acuan sebesar 25 bps pada rapat yang digelar hari ini, waktu Amerika Serikat. Alhasil, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) diperkirakan rentan terkoreksi dalam jangka pendek. Sementara rupiah kembali goyah.

Kemarin, rupiah di pasar spot sempat menembus lagi ke posisi Rp 15.000 per dollar. Meski begitu, Head of Economic & Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja melihat, volatilitas rupiah mulai reda sejalan pergerakan mata uang regional yang lebih stabil. Berbagai kebijakan moneter dan fiskal disinyalir bisa menopang rupiah. Prediksi Enrico, rupiah akan bergulir di rentang Rp 14.890-Rp 15.000 per dollar hingga akhir tahun ini.

Peluang Dari Kenaikan Fed

Faisyal, analis Monex Investindo Futures, menghitung rupiah masih akan tertekan antara Rp 14.900-Rp 15.000. “Bahkan, terburuk bisa ke Rp 16.000, karena akhir tahun korporasi butuh banyak dollar untuk bayar utang,” tutur dia.

Meski rentan turun dalam waktu dekat, analis Panin Sekuritas William Hartanto melihat peluang pasar saham menguat di akhir tahun ini. Saat kenaikan Fed fund rate diumumkan, arah pasar lebih jelas. “Terlepas dari perang dagang dan suku bunga, secara teknikal, Oktober selalu jadi akhir dari downtrend,” kata William, Rabu (26/9). Dia menyarankan momentum koreksi ini dimanfaatkan untuk masuk. Sektor saham menarik saat ini ialah saham pertambangan. Jagoannya, PTBA, AKRA, ADRO, DOID dan ELSA. Target harga akhir tahun ini, masing masing di level Rp 5.000, Rp 4.000, Rp 2.200, Rp 900 dan Rp 400.

Dennies Christoper, analis Artha Sekuritas, juga merekomendasikan sektor pertambangan, khususnya migas dan nikel. Pertimbangannya, harga minyak mentah dan nikel dalam tren naik. Rekomendasinya, ELSA dengan target harga sepekan di Rp 380. Lalu MEDC dan INCO dengan target harga masingmasing Rp 980 dan Rp 3.780. Sedangkan, Aditya Perdana, analis Semesta Indovest, menyarankan investor menerapkan pola trading. Dia melihat pasar masih akan konsolidasi. “Batasi kerugian dengan cut loss. Beberapa sektor yang menarik karena volatilitas tinggi, seperti perbankan, barang konsumsi dan aneka industri,” kata dia. Investor juga disarankan mencermati saham blue chip yang sudah turun signifikan selama dua minggu. Sebab, terbuka peluang rebound di pekan ketiga. Di sektor konsumer, yang menarik GGRM dan UNVR. Sedang di perbankan ada BBCA dan BBRI. Tapi, Dennies tidak menyarankan sektor keuangan. Sebab, kenaikan FFR sangat mungkin diikuti dengan kenaikan suku bunga BI. Ini akan berdampak kenaikan cost of fund bank. “Saham perbankan wait and see,” imbuh dia.